Whitten 2

teman-teman simkes, bantuin koreksi jawaban pertanyaan tinjauan whitten bab 2 ya

2 Comments

Whitten 1

bantu koreksi dong jawaban pertanyaan tinjauan bab 1 buku whitten versi indonesia

2 Comments

Racun dalam Sebatang Rokok

Zat paling berbahaya diantara 4000 bahan kimia dan gas dalam rokok adalah nikotin. Setiap kali mengisap rokok, seseorang memasukkan nikotin ke dalam parunya lalu ke otaknya. Penelitian telah membuktikan bahwa nikotin dapat mengakibatkan ketagihan, sama seperti heroin dan kokain. Nikotin juga dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Pembuluh darah yang sempit membuat darah menjadi lebih sulit mengalir ke seluruh tubuh. Organ-organ tubuh menjadi kekurangan oksigen karena aliran darah tidak lancar. Hal ini membuat jantung dipaksa bekerja lebih keras memompa darah. Akibatnya, tekanan darah menjadi tinggi dan jantung menjadi lebih cepat rusak atau terkena penyakit.
            Selain nikotin, zat paling berbahaya lainnya adalah tar, karbonmonoksida dan karbondioksida. Tar salah satu zat penyebab kanker. Karbonmonoksida adalah gas yang mirip dengan asap yang dikeluarkan knalpot kendaraan. Karbonmonoksida dapat menyebabkan sel darah merah sulit menyerap oksigen, sehingga dapat mengganggu kerja jantung. Sedangkan karbondioksida adalah gas sisa pernapasan yang harus segera dikeluarkan dari paru-paru.
            Zat-zat beracun lainnya, misalnya amonia (bahan pembersih lantai), naftalen (zat kapur barus), hidrogen sianida (racun yang digunakan untuk pelaksanaan hukuman mati), aseton (penghapus cat kuku), toluen (pelarut), metanol (bahan bakar roket), arsenik (racun semut), butan (bahan bakar korek api), kadmium (bahan aki mobil), DDT (racun serangga), vinil klorida (bahan plastik) dan lain-lain.
            Asap rokok yang dihirup manusia ada 2 jenis : asap langsung dan asap tak langsung. Asap langsung adalah asap yang keluar dari mulut si pengisap rokok. Sedangkan asap tak langsung adalah asap yang keluar dari rokok yang dibakar. Orang yang tidak merokok, tetapi terpaksa menghirup asap rokok orang lain dinamakan perokok pasif. Perokok pasif terancam bahaya lebih besar dari pada si pengisap rokok atau perokok aktif. Sebab tubuh perokok pasif tidak memiliki antibodi (penangkal) zat-zat racun rokok. Akibatnya, racun dari asap rokok akan langsung terserap dalam tubuh. Berbeda dengan perokok aktif. Karena telah mengisap rokok selama bertahun-tahun, tubuh perokok aktif membentuk antibodi yang dapat mengurangi penyerapan racun dalam tubuh.
            Jika perokok pasif itu adalah anak-anak, maka bahayanya lebih besar lagi. Racun yang terhirup akan mengganggu kerja organ tubuh seperti paru dan jantung. Jika organ tubuh sudah terganggu sejak kecil, maka tubuh akan lebih mudah terserang penyakit. Penelitian Pusat Kanker Amerika menyatakan bahwa para perokok dapat kehilangan 20 sampai 25 tahun masa hidupnya. Maksudnya, rokok mengakibatkan organ tubuh lebih cepat rusak sehingga mempercepat kematian seseorang.
            Bila anda menyayangi diri anda dan keluarga segera hentikan merokok sejak sekarang dan ajak orang-orang disekitar anda untuk berhenti merokok.

, , ,

No Comments

Peran Wanita Sholehah

Menjadi seorang wanita sholehah adalah suatu keinginan mulia. Sebagai seorang wanita, kita mempunyai banyak peranan dalam kehidupan ini. Untuk mengetahui lebih banyak tentang peran wanita sholehah, anda bisa mendownload materi peran dan fungsi wanita sholehah.

No Comments

Epidemiologi Penyakit Malaria

Malaria adalah salah satu penyakit yang mempunyai penyebaran luas. Penyebaran penyakit malaria ditentukan oleh faktor yang disebut host, agent dan environment. Selanjutnya…

,

No Comments

Depkes Basmi Malaria

Kasus malaria di Indonesia masih cukup tinggi. Departemen Kesehatan (Depkes) berencana mengeliminasi jumlah penderita penyakit tersebut secara masal di berbagai daerah. Karena itu, Menkes Siti Fadilah Supari mengeluarkan surat keputusan tentang eliminasi malaria. Surat itu ditujukan kepada daerah-daerah dengan angka malaria cukup tinggi. Di antaranya, Papua, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Kalimantan, Sumatera, dan NTB.

Selanjutnya…

No Comments

MoPI dan MoMI

MoPi (Monthly Paracyte Incidence) dihitung dari data sakit malaria yang penegakanya dengan pemeriksaan parasit (laboratorium) perbulan, kalo pertahun jadinya API (Annual Paracyte Incidence)

MoMI (Monthly Malaria Incidence) dihitung dari data sakit malaria perbulan yang penegakkannya secara klinis saja (tanpa laboratorium), kalo pertahun jadinya AMI (Annual Malaria Incidence).

Jawa-Bali menggunakan ukuran MoPI dan MoMI, untuk diluar Jawa-Bali biasanya menggunakan ukuran MoMI karena keterbatasan pemeriksaan laboratoriumnya.

(thanks ya bina infonya)

,

No Comments

Parasit Malaria di Indonesia Kebal Khlorokuin dan Fansidar

Hampir 100 persen parasit malaria di Indonesia mengalami mutasi gen yang menyebabkan resisten atau kebal terhadap obat antimalaria golongan khlorokuin, derivat kuinin, meflokuin, dan halofantrin. Sementara parasit malaria yang mengalami mutasi gen sehingga kebal terhadap obat antimalaria antifolat-yaitu pirimetamin yang umumnya dikombinasikan dengan sulfadoksin (Fansidar)-bervariasi 30-100 persen di berbagai wilayah Indonesia. Selanjutnya…

,

2 Comments

Pengembangan Obat Baru Anti Malaria

Malaria masih menjadi masalah kesehatan sangat penting di seluruh dunia. Badan Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 40% penduduk dunia atau sekitar 2,3 miliar penduduk tinggal di daerah endemik malaria. Malaria diperkirakan telah menginfeksi 300 sampai dengan 500 juta penduduk dunia dan mengakibatkan 1,5 hingga 2,7 juta penderita meninggal dunia setiap tahunnya. Selanjutnya…

No Comments

Surveilans dan Standar Data

Suatu sistem surveilans kesehatan masyarakat (Public Health Surveillance System) di masa kini banyak didukung oleh perkembangan teknologi elektronik. Seharusnya arus data yang dikumpulkan pun menjadi lebih cepat / real-time, mampu memonitor perkembangan / penyebaran kejadian kesehatan / penyakit (tren) di masyarakat serta bermanfaat bagi para pengambil kebijakan bidang kesehatan untuk melakukan tindakan yang tepat dan segera. Namun, nampaknya masalah standardisasi data masih akan menjadi topik hangat pada perkembangan sistem surveilans di beberapa negara termasuk Indonesia. Selanjutnya…

No Comments

Improve the web with Nofollow Reciprocity.