Masalah Ilmu Pengetahuan, Sekitar Teknologi dan Dimensi Moral


Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan semakin bervariasi. Berawal di masa lalu ilmu pengetahuan lebih menunjukkan keekaannya daripada kebhinnekaannya. Namun dalam perjalanan waktu, ilmu pengetahuan berkembang ke arah kebhinekaan atau keserbamajemukan ilmu. Bila dulu hanya satu ilmu pengetahuan (filsafat), maka saat ini ilmu tersebut terbagi menjadi bermacam-macam displin pengetahuan tersendiri yang banyak jumlahnya.
Pada dasarnya berspesialisasi dalam ilmu pengetahuan itu tidaklah sama dengan hanya membatasi diri pada bidang materi khusus, terpisah sama sekali dari yang lain. Ilmu-ilmu pengetahuan itu memang berlainan satu sama lain,  karena metodenya yang berbeda-beda, obyek yang diselidikinya dan tujuan dari ilmu itu sendiri. Tiap-tiap ilmu pengetahuan mempunyai cara sendiri untuk mengamati, mengadakan eksperimen, mempunyai hipotesis dan teorinya sendiri serta mempunyai bahasanya sendiri. Karena itu banyak ilmu pengetahuan yang saling berdampingan, yang masing-masing mempunyai cara sendiri untuk memetakan kenyataan, tetapi peta-peta itu tidak bisa dihubungkan satu sama lain untuk memperoleh ikhtisar tentang kenyataan.    
Ilmu pengetahuan tidak seluruhnya setelah diterapkan bermanfaat bagi manusia bahkan ada yang sebaliknya mengancam manusia. Spesialisasi memang perlu demi perkembangan ilmu itu sendiri dan demi ringannya beban manusia untuk menguasai ilmu pengetahuan. Rasanya memang tidak mungkin seorang jenius sekalipun untuk memahami dan menguasai semua ilmu pengetahuan yang tumbuh dewasa ini.
Spesialisasi dapat juga memberikan dampak yang berbahaya bagi manusia karena adanya keterasingan. Bahkan dampak yang paling berbahaya adalah terbelenggunya seseorang oleh ilmunya yang sempit. Salah satu cara untuk menyiasati hal itu dengan jalan dibentuknya kerjasama di antara ilmu-ilmu pengetahuan dan terutama kerjasama di antara para ilmuwan. Keharusan kerjasama itu sesuai dengan sosial manusia dan segala kegiatannya. Kerjasama seperti itu akan membuat para ilmuwan memiliki cakrawala pandangan yang lebih luas dalam melihat dan menganalisis sesuatu. Banyak segi akan dipikirkan lebih dulu sebelum mengambil keputusan akhir apalagi bila keputusan itu menyangkut manusia sendiri.
Tiap-tiap ilmu pengetahuan ataupun ilmu terapan membutuhkan bantuan disiplin lain supaya dapat bersama-sama menyempurnakan manusia secara utuh. Tak ada teknologi yang secara memuaskan persoalan-persoalan manusia. Setiap teknik hanya sanggup menjawab salah satu sisi kebutuhan manusia. Untuk dapat menjawab semua kebutuhan dan makin memanusiakan manusia maka cabang ilmu pengetahuan dan teknologi harus bekerjasama dan maju serempak dari segala penjuru sisi manusia untuk menjawab kebutuhannya. Jadi dalam teknologi semua ilmu saling membutuhkan dan titik temu terakhir adalah dalam diri manusia, sebab semua itu dikembangkan akhirnya untuk keutuhan diri.
Pada periode yang lalu pengembangan ilmu pengetahuan akan optimal apabila sesuai dengan kaidah – kaidah ilmu pegetahuan itu sendiri tanpa pengaruh dari kekuatan lain. Sedangkan saat ini terlihat nyata keterbatasan ilmu pengetahuan itu dalam menghadapi masalah yang menyangkut dan mengenai hidup serta pribadi manusia.
Manusia merupakan species yang secara biologis paling kurang mampu / tidak memiliki daya penyesuaian diri. Karena kekurangan itulah manusia mempunyai kemampuan untuk menciptakan suatu lingkungan artitisial (tiruan), yang wujudnya beragam, dari keluarga  sampai ke kebudayaan. Sehingga manusia dibekali teknik untuk membuat lingkungannya cocok dengan dirinya. Salah satu unsur pokok kebudayaan adalah kemampuan abstraksi yang merupakan dasar penciptaan kebudayaan itu sendiri. Semakin tinggi tingkat kemampuan abstraksinya, semakin tinggi pula kebudayaan bangsa tersebut.
Salah satu hasil abstraksinya  adalah pengetahuan manusia mengenai alamnya yang merupakan kemampuan manusia dalam mengelola dan mengubah alam menjadi dunia. Karena memang dunia itu mempunyai jarak dengan alam asli. Dari alam inilah yang disistematisasikan dalam skema-skema abstraksi berupa teori-teori ilmu pengetahuan dalam perkembangannya manjadi bahan pokok lahirnya teknologi manusia.

  1. No comments yet.
(will not be published)

Comments links could be nofollow free.


Improve the web with Nofollow Reciprocity.