Archive for category Filsafat

Strategi Pengembangan Ilmu

Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia tidak hanya mengarah pada dasar context of justification tetapi lebih mengarah pada context of discovery. Di Indonesia, ada beberapa strategi yang tepat digunakan dalam pengembangan ilmu pengetahuan:

1.      Visi dan orientasi filosifiknya diletakkan pada nilai-nilai (Pancasila) di dalam menghadapi masalah-masalah yang harus dipecahkan sebagai data/fakta objektif dalam satu kesatuan integratif.

2.      Visi dan orientasi operasionalnya diletakkan pada dimensi – dimensi :

  1. Teleologis, dalam arti  bahwa ilmu pengetahuan hanya sekedar sarana yang memang harus kita pergunakan untuk mencapai teleos (tujuan), sebagaimana merupakan ideal kita untuk mewujudkan cita-cita sebagaimana dicantumkan dalam Pembukaan UndangUndang Dasar 1945
  2. Etis, artinya bahwa ilmu pengetahuan harus kita operasio-nalisasikan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia.
  3. Integral/Integratif merupakan penerapan ilmu pengetahuan untuk eninkatkan kualitas manusia dan juga struktur masyarakatnya

No Comments

Etika Ilmiah dan Pancasila

Ilmu pengetahuan dan teknologi tradisional pada awalnya bersifat evolusioner (lambat dan filetis) sehingga tidak menimbulkan masalah besar bagi manusia. Dalam perkembangannya menjelang akhir abad XX kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi makin pesat, hingga makin terpisah jauh meninggalkan agama, etika, hukum, ilmu pengetahuan sosial dan humaniora, yang berakibat timbulnya berbagai macam problem dalam berbagai bidang.

Perkembangan ilmu pengetahuan saat ini merupaan evolusi kuantum yang berlangsung dengan lonjakan besar,laju yang tinggi dan mengandung harapan baru bagi manusia. Sehingga perlu pendampingan dari sisi agama dan etika agar tidak salah arah.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pada ahirnya akan mempengaruhi kehidupan, sehingga perlu memperhatikan beberapa faktor :

  1. Birokrasi dan teknokrasi
  2. Eksploitasi alam memuncak
  3. Militerisasi kehidupan
  4. Eksperimentasi
  5. Emansipasi dari ruang dan waktu
  6. Komersialisasi

Diperlukan etika ilmiah untuk membatasi pengaruh buruk ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap manusia. Etika ilmiah yang umum meliputi ilmu pengetahuan yang murni maupun yang dipakai serta etika khusus yang merupakan spesialisasi dan profesi. Etika ilmiah merupakan sebagian dari fungsi ilmu pengetahuan, sehingga karena pembagian tugas dan fungsi antara berbagai disiplin dan profesi inilah etika juga terbagi- bagi.

Indonesia dengan Pancasila-nya mempunyai prinsip besarnya yang cukup luas dan mendasar untuk mencakup segala persoalan etika dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu :

  1. Monoteisme
  2. Humanisme
  3. Nasionalisme
  4. Demokrasi
  5. Keadilan sosial

No Comments

Masalah Ilmu Pengetahuan, Sekitar Teknologi dan Dimensi Moral

Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan semakin bervariasi. Berawal di masa lalu ilmu pengetahuan lebih menunjukkan keekaannya daripada kebhinnekaannya. Namun dalam perjalanan waktu, ilmu pengetahuan berkembang ke arah kebhinekaan atau keserbamajemukan ilmu. Bila dulu hanya satu ilmu pengetahuan (filsafat), maka saat ini ilmu tersebut terbagi menjadi bermacam-macam displin pengetahuan tersendiri yang banyak jumlahnya.
Pada dasarnya berspesialisasi dalam ilmu pengetahuan itu tidaklah sama dengan hanya membatasi diri pada bidang materi khusus, terpisah sama sekali dari yang lain. Ilmu-ilmu pengetahuan itu memang berlainan satu sama lain,  karena metodenya yang berbeda-beda, obyek yang diselidikinya dan tujuan dari ilmu itu sendiri. Tiap-tiap ilmu pengetahuan mempunyai cara sendiri untuk mengamati, mengadakan eksperimen, mempunyai hipotesis dan teorinya sendiri serta mempunyai bahasanya sendiri. Karena itu banyak ilmu pengetahuan yang saling berdampingan, yang masing-masing mempunyai cara sendiri untuk memetakan kenyataan, tetapi peta-peta itu tidak bisa dihubungkan satu sama lain untuk memperoleh ikhtisar tentang kenyataan.    
Ilmu pengetahuan tidak seluruhnya setelah diterapkan bermanfaat bagi manusia bahkan ada yang sebaliknya mengancam manusia. Spesialisasi memang perlu demi perkembangan ilmu itu sendiri dan demi ringannya beban manusia untuk menguasai ilmu pengetahuan. Rasanya memang tidak mungkin seorang jenius sekalipun untuk memahami dan menguasai semua ilmu pengetahuan yang tumbuh dewasa ini.
Spesialisasi dapat juga memberikan dampak yang berbahaya bagi manusia karena adanya keterasingan. Bahkan dampak yang paling berbahaya adalah terbelenggunya seseorang oleh ilmunya yang sempit. Salah satu cara untuk menyiasati hal itu dengan jalan dibentuknya kerjasama di antara ilmu-ilmu pengetahuan dan terutama kerjasama di antara para ilmuwan. Keharusan kerjasama itu sesuai dengan sosial manusia dan segala kegiatannya. Kerjasama seperti itu akan membuat para ilmuwan memiliki cakrawala pandangan yang lebih luas dalam melihat dan menganalisis sesuatu. Banyak segi akan dipikirkan lebih dulu sebelum mengambil keputusan akhir apalagi bila keputusan itu menyangkut manusia sendiri.
Tiap-tiap ilmu pengetahuan ataupun ilmu terapan membutuhkan bantuan disiplin lain supaya dapat bersama-sama menyempurnakan manusia secara utuh. Tak ada teknologi yang secara memuaskan persoalan-persoalan manusia. Setiap teknik hanya sanggup menjawab salah satu sisi kebutuhan manusia. Untuk dapat menjawab semua kebutuhan dan makin memanusiakan manusia maka cabang ilmu pengetahuan dan teknologi harus bekerjasama dan maju serempak dari segala penjuru sisi manusia untuk menjawab kebutuhannya. Jadi dalam teknologi semua ilmu saling membutuhkan dan titik temu terakhir adalah dalam diri manusia, sebab semua itu dikembangkan akhirnya untuk keutuhan diri.
Pada periode yang lalu pengembangan ilmu pengetahuan akan optimal apabila sesuai dengan kaidah – kaidah ilmu pegetahuan itu sendiri tanpa pengaruh dari kekuatan lain. Sedangkan saat ini terlihat nyata keterbatasan ilmu pengetahuan itu dalam menghadapi masalah yang menyangkut dan mengenai hidup serta pribadi manusia.
Manusia merupakan species yang secara biologis paling kurang mampu / tidak memiliki daya penyesuaian diri. Karena kekurangan itulah manusia mempunyai kemampuan untuk menciptakan suatu lingkungan artitisial (tiruan), yang wujudnya beragam, dari keluarga  sampai ke kebudayaan. Sehingga manusia dibekali teknik untuk membuat lingkungannya cocok dengan dirinya. Salah satu unsur pokok kebudayaan adalah kemampuan abstraksi yang merupakan dasar penciptaan kebudayaan itu sendiri. Semakin tinggi tingkat kemampuan abstraksinya, semakin tinggi pula kebudayaan bangsa tersebut.
Salah satu hasil abstraksinya  adalah pengetahuan manusia mengenai alamnya yang merupakan kemampuan manusia dalam mengelola dan mengubah alam menjadi dunia. Karena memang dunia itu mempunyai jarak dengan alam asli. Dari alam inilah yang disistematisasikan dalam skema-skema abstraksi berupa teori-teori ilmu pengetahuan dalam perkembangannya manjadi bahan pokok lahirnya teknologi manusia.

No Comments

Etika Keilmuan

Ilmu pengetahuan bukanlah pengetahuan yang datang  dengan sendirinya seperti barang yang sudah jadi. Ilmu ini unik karena memiliki suatu cara pemikiran yang khusus dengan pendekatan yang khas sehingga menghasilkan pengetahuan yang handal. Handal dalam sistem dan struktur ilmu untuk dapat dibagi, diuji dan dipertanggungjawabkan secara terbuka. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang di dalam dirinya memiliki  karakteristik kritis, rasional, logis, objektif, dan terbaku (Jujun, 1978). Ilmu filsafat dapat dikelompokkan menjadi ilmu teoritis (membahas segala sesuatu yang ada) dan filsafat praktis (membahas bagaimana manusia bersikap terhadapa apa yang ada).
Etika merupakan salah satu dalam kelompok filsafat praktis yang merupakan suatu pemikiran yang  mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Etika juga berkaitan dengan masalah predikat nilai ”susila” dan ”tidak susila” atau ”baik” dan ”buruk”. Sesungguhnya etika lebih banyak bersangkutan dengan prinsip-prinsip dasar pembenaran dalam hubungannya dengan tingkah laku manusia (Kattsoff, 1986). Etika terdiri dari etika umum dan etika khusus. Menurut Magnis Suseno (1987), etika khusus dibagi menjadi dua yaitu etika individual dan etika sosial, yang keduanya berhubungan dengan tingkah laku sebagai warga masyarakat. Etika individual membahas kewajiban manusia terhadap diri sendiri yang kaitannya dengan kedudukan sebagai warga negara. Sedangkan etika sosial membahas tentang kewajiban manusia sebagai anggota masyarakat atau umat manusia. Etika individual sangat berkaitan erat dengan etika sosial. Etika sosial berfungsi membuat manusia menjadi sadar akan tanggungjawabnya sebagai manusia dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat menurut semua dimensinya.   
Memahami manusia berarti menempatkan dalam konteks kehidupan yang nyata dalam kaitannya dengan lingkungan hidup, sehingga manusia merupakan bagian dari seluruh jagad raya yang sesuai kodratnya harus menempatkan diri dan merupakan pusatnya. Hubungan manusia dengan alam lingkungan hidup sebenarnya tidak dapat ditentukan secara terpisah. Di dalam kehidupan manusia terdapat dua sikap, yang kedua sikap ini berbeda bahkan kadang bertentangan. Sikap pertama, sikap manusia yang mengembangkan ilmu dan teknologi untuk menguasai alam dan menundukkan alam. Dalam usahanya menguasai alam, mengolah,dan mengeksplorasi kejayaan alam dapat mengarahkan manusia ke arah sikap superior. Kadang sikap superior ini tidak memperhitungkan kemampuan dan kelestarian alam. Sikap kedua, adalah sikap manusia yang mendewakan alam. Dalam hal ini manusia hanya menyerah kepada struktur dan norma yang ada pada alam. Manusia merupakan bagian alam yang tak terlepas darinya. Oleh sebab itu manusia harus senantiasa menjaga kelestarian alam dalam keseimbangannya yang bersifat mutlak pula.    
1.      Etika keilmuan yang berkembang saat ini diharapkan tidak menjerumuskan para ilmuwan pada hal-hal yang tidak diinginkan oleh manusia itu sendiri. Para ilmuwan yang jujur dan patuh pada norma-norma keilmuan saja belum cukup melainkan ia harus dilapisi oleh moral dan akhlaq, baik moral umum yang dianut masyarakat atau bangsa (moral/ etika Pancasila bagi bangsa Indonesia), maupun moral religi yang dianutnya. Hal ini dimaksudkan agar jangan sampai terjadi hal-hal yang menyimpang yang akibatnya menyengsarakan umat manusia. Sebagai seorang ilmuwan sudah barang tentu mereka juga perlu memiliki visi moral yaitu moral khusus sebagai ilmuwan. Moral inilah di dalam filsafat ilmu juga disebut juga sebagai sikap ilmiah.  
            Para ilmuwan Indonesia dalam mengembangan ilmu pengetahuan diharapkan berlandaskan etika Pancasila dan moral Pancasila guna pembangunan bangsa Indonesia. Sehingga pembangunan tidak menyimpang dari tujuan luhur keilmuan (objektivitas) dan kepentingan kemanusiaan agar dapat dapat selalu berdampingan dengan alam yang lestari dan harmoni. 

No Comments

Kebenaran Ilmiah

Kebenaran dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkret maupun abstrak. Adapun kebenaran dapat berkaitan dengan :
1.      Kualitas pengetahuan
Artinya bahwa setiap pengetahuan dimiliki seseorang yang mengetahui suatu obyek ditinjau dari pengetahuan yang dibangun. Pengetahuan tersebut berupa :
  1. Pengetahuan biasa yang sifatnya subyektif
  2. Pengetahuan ilmiah yang bersifat relatif
  3. Pengetahuan filasafati yang sifatnya absolut-intersubyektif
  4. Pengetahuan agama yang bersifat absolut
2.      Karakteristik cara membangun pengetahuan:
a.       Penginderaan/ sense experience
b.      Akal pikir/ ratio/ intuisi
c.       Keyakinan
      Jenis pengetahuan menurut kriteria karakteristik:
a.       Pengetahuan indrawi
b.      Pengetahuan akal budi
c.       Pengetahuan intuitif
d.      Pengetahuan kepercayaan/ pengetahuan otoritatif
e.       Pengetahuan lain-lain
3.      Ketergantungan terjadinya pengetahuan, yang artinya bagaimana hubungan subjek dan objek. Bila yang dominan subjek maka sifatnya subjektif, sebaliknya bila yang dominan objek maka sifatnya objektif.
Teori kebenaran selalu paralel dengan teori pengetahuan yang dibangunnya. Teori-teori kebenaran yang telah terlembaga tersebut adalah:
1.      Teori Kebenaran Korespondensi
Teori ini dikenal sebagai salah satu teori kebenaran tradisional atau teori yang paling tua.
2.      Teori Kebenaran Koherensi
Teori ini juga termasuk dalam katagori teori tradisional yang dibangun oleh para pemiir rationalis seperti Leibniz, Sinoza, Hegel, dan Bradley.
3.      Teori Kebenaran Pragmatis
Termasuk juga sebagai teori tradisional, paham pragnatis sesungguhnya merupakan pandangan filafat kontenporer yang berkembang pada akhir abad XIX dan awal abad XX oleh tiga filusuf Amaerika, yaitu C.S. Pierce, Wiliam James dan John Dewey.
4.      Teori Kebenaran Sintaksis
Teori ini berkembang di antara filsuf analisa bahasa, terutama yang begitu ketat terhadap pemakaian gramatika seprti Freiderich Schleiemacher.
5.      Teori Kebenaran Semantis
Teori ini dianut oleh paham filsafat analitika bahasa yang dikembangkan paska filsafat Bentrand Rusdell sebagai tokoh pemula dari filsafat analitika bahasa.
6.      Teori Kebenaran Non Deskripsi
Teori kebenaran non deskripsi ini dikembangkan oleh penganut filsafat fungsionalisme.
7.      Teori Kebenaran Logik yang berlebihan
Teori ni dikembangkan oleh kaum Positivastik yang diawali oleh Anyer.
Kebenaran ilmiah muncul dari hasil penelitian ilmiah dengan melalui prosedur baku berupa tahap-tahapan untuk memperoleh pengetahuan ilmiah yang berupa metodologi ilmiah yang sesuai dengan sifat dasar ilmu

1 Comment

Metode Ilmiah

 
Metode ilmiah merupakan suatu prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, cara teknis, dan tata langkah untuk memperoleh pengetahuan baru/ pengembangan pengetahuan yang telah ada. Metode berasal dari bahasa Yunani, Meta yang berarti sesudah dan hodos yang berarti jalan. Metode adalah langkah-langkah yang diambil menurut urutan tertentu, untuk mencapai pengetahuan yang benar, yaitu sesuatu tatacara, teknik, atau jalan yang telah dirancang dan dipakai dalam proses memperoleh pengetahuan jenis apapun, baik pengetahaun humanistik,dan historis, ataupun pengetahuan filsafat dan ilmiah (Bakker, 1988). Van Melsen(1986) mengemukakan bahwa setiap ilmu mempunyai metode berlainan untuk menyelidiki, melukiskan, mengerti realitas.
Corak-corak metodologis yang dikembangkan menyebabkan ilmu pengetahuan bersifat positivistik (bebas dari pikiran etis), deterministik (berdasarkan pada hukum-hukum kausalitas), evolusionistik (melihat sejarah sebagai dasar menentukan objek yang diteliti), sehingga segala sesuatu harus dijelaskan dengan metode kuantitatif dan eksperimental melalui observasi (Brouwer, 1984)
Ilmu-ilmu kealaman pada umumnya menggunakan metode siklus-empirik dan objektivitasnya diuji secara empiris-eksperimental. Imu-ilmu sosial dan humanistik pada umumnya menggunakan metode linier dan analisisnya dimaksudkan menemukan arti, nilai, dan tujuan.  Pada tahapan siklus-empirik terdapat lima tahapan, antara lain: observasi, induksi, deduksi, eksperimen, dan evaluasi. Kegiatan dalam observasi ini adalah objeknya diselidiki, dikumpulkan, diidentifikasi, didaftar, dan di klarifikasikan secara ilmiah, kemudian dicari hubungan dalam kerangka ilmiah. Langkah kedua, observasi disimpulkan disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum (induksi). Langkah ketiga adalah data-data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtut (deduksi). Langkah keempat, observasi eksperimental, yaitu pernyataan yang telah dijabarkan secara deduktif diuji dengan melakukan verifikasi/ klarifikasi secara empirik. Verifikasi merupakan tahapan untuk mengukuhkan atau menggugurkan pernyataan-pernyataan rasional hasil dari deduksi-deduksi logis.
Pengalaman epistemologis di sini adalah meningkatkan daya kritis dan ketajaman dalam menangkap sebuah masalah beserta cara-cara pemecahan sehingga mempermudah dalam mengatasi persoalan yang semakin kompleks, selain itu meningkatkan kemampuan antisipatif yang tinggi.

No Comments

Sarana Berfikir Ilmiah

             Berfikir merupakan ciri utama bagi manusia. Berfikir disebut juga sebagai proses bekerjanya akal. Secara garis besar berfikir dapat dibedakan antara berfikir alamiah dan berfikir ilmiah. Berfikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan kehidupan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya. Berfikir ilmiah adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan cermat.
            Bagi seorang ilmuan penguasaan sarana berfikir ilmiah merupakan suatu keharusan, karena tanpa adanya penguasaan sarana ilmiah, maka tidak akan dapat melaksanakan kegiatan ilmiah dengan baik. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat untuk membantu kegiatan ilmiah dengan berbagai langkah yang harus ditempuh.
            Sarana berfikir ilmiah pada dasarnya ada tiga, yaitu : bahasa ilmiah, logika dan matematika, logika dan statistika. Bahasa ilmiah berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan jalan fikiran seluruh proses berfikir ilmiah. Logika dan matematika mempunyai peranan penting dalam berfikir deduktif sehingga mudah diikuti dan mudah dilacak kembali kebenarannya. Sedang logika dan statistika mempunyai peranan penting dalam berfikir induktif dan mencari konsep-konsep yang berlaku umum.

2 Comments

Landasan Penelaahan Ilmu

            Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apapun selama hal itu terbatas pada objek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan menggunakan metode keilmuan secara sah disebut keilmuan.
Kegiatan keilmuan dan pengembangan ilmu memerlukan 2 pertimbangan. Objektifitas yang tertuju pada kebenaran merupakan landasan tetap yang menjadi pola dasarnya. Nilai-nilai kemanusiaan merupakan dasar, latar belakang dan tujuan dari kegiatan keilmuan.
            Berdasarkan pertimbangan nilai yang diperhatikan, maka pandangan para ilmuan dapat dibedakan menjadi 2 golongan yaitu :
  1. para ilmuan yang hanya menggunakan satu pertimbangan nilai yaitu nilai kebenaran dan mengesampingkan pertimbangan nilai-nilai metafisik lain. Prinsip ilmu pengetahuan yang  bebas nilai akan menjadikan kebenaran sebagai satu-satunya ukuran dan segala-galanya bagi kegiatan ilmiah termasuk penentuan tujuan bagi ilmu pengetahuan.
  2. Para ilmuan yang memandang sangat perlu dimasukannya pertimbangan nilai-nilai etik, kesusilaan dan kegunaan untuk melengkapi pertimbangan nilai kebenaran yang akhirnya sampai pada prinsip bahwa ilmu pengetahuan harus taut nilai
Kedua pandangan tersebut sebenarnya tidak saling bertentangan. Pertimbangan nilai etik dan kemanfaatan tidak dimaksudkan untuk mengubah ciri-ciri metode ilmiah melainkan untuk menjamin kepentingan masyarakat.

No Comments

STUDI LITERATUR MENJARING SUBSTANSI PERMASALAHAN MELALUI PENDEKATAAN SISTEMATIS

Bagian I Permasalahan Ontologis

No Comments

Improve the web with Nofollow Reciprocity.